Profil Desa
Sejarah Desa
Desa Sendangrejo pada awalnya termasuk dalam wilayah Desa Kacapura, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali. Sendangrejo mulanya merupakan salah satu dusun di Desa Kacapura. Karena dinilai telah memenuhi syarat untuk berdiri menjadi desa mandiri, Dusun Sendangrejo kemudian dimekarkan dan diresmikan sebagai desa definitif oleh Bupati Boyolali pada 29 November 1925.
Asal-Usul Nama "Sendangrejo"
Sulit menemukan bukti sejarah yang pasti mengenai asal-usul nama "Sendangrejo". Yang berkembang di masyarakat adalah cerita turun-temurun dari mulut ke mulut. Menurut salah satu versi, "Sendangrejo" berasal dari kata sendang (bahasa Jawa) yang berarti sumber air yang tidak pernah kering, dan rejo yang berarti subur atau melimpah. Pada zaman dahulu daerah ini masih berupa hutan dan persawahan dengan banyak sekali ditemukan sendang. Nama "Sendangrejo" telah lama dipakai untuk menyebut kawasan pertanian di daerah ini sebelum akhirnya diresmikan menjadi nama desa.
Letak dan Wilayah
Desa Sendangrejo berjarak sekitar 3 km dari ibu kota Kecamatan Klego dan sekitar 25–30 km dari ibu kota Kabupaten Boyolali. Wilayahnya berbatasan dengan Desa Kalangan di sebelah utara, Desa Sempu di sebelah timur, Desa Wates di sebelah selatan, dan Desa Tanjung di sebelah barat. Desa Sendangrejo terdiri dari 3 kepala dusun (kadus) dan 19 RT dengan luas wilayah sekitar 540 hektar. Sebagian besar wilayahnya berupa lahan pertanian sawah dan perkebunan, sehingga mata pencaharian utama warga adalah bertani dan berkebun.
Tradisi dan Budaya
Desa Sendangrejo memiliki sejumlah tradisi yang masih lestari sebagai ungkapan rasa syukur warga kepada Tuhan Yang Maha Esa, antara lain:
- Kupatan / Gumbregan - digelar setiap tahun setelah musim tanam padi sebagai wujud syukur sekaligus doa keselamatan bagi para petani.
- Baritan - tradisi yang digelar delapan tahun sekali (sewindu), terutama di Dukuh Glodog, dan kerap ditutup dengan pentas kesenian Tayub.
- Dekahan Desa / Bersih Desa - dilaksanakan setiap tahun setelah panen raya melalui kenduri, tahlil, dan dzikir bersama.
Kepala Desa dari Masa ke Masa
- Kasan Rejo
- Kertan
- Podi
- Rejo Sastro
- Singo Martono (1944–1949)
- Cokro Wilopo (1950–1954)
- Suyoto (1954–1988)
- Kamuri (1988–1996)
- Pj. Tukino (1996–1998)
- Bambang Kusnohadi (1998–2007)
- Samzuni (2007–2010)
- Nurjadi (2010–2016)
- Laksono Tri Nugroho Wisnu P. (2016–sekarang)
Profil lainnya